Negeri Yang Menolak Cahaya

 ...

Alokasha terdiam melihat berbagai berita di tv hari itu. Semakin hari nampak kehancuran semakin dekat. Pemerintahan kacau, angka kemiskinan meningkat, aktivis lingkingan ditangkap bahkan dilukai, alam mulai menunjukkan taringnya, banyak kematian terjadi dan lain-lain. Orang-orang tak lagi terdengar diantara para penguasa. Gedung yang seharusnya dimiliki oleh rakyat malah dipagari dan diberi jarak yang jauh dari jangkauan tangan-tangan kecil. Dalam benak Alokasha berpikir bagaimana bisa ada manusia bisa menutup telinga dan mata serapat ini.

Ketika hati dan pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dan kekesalan, tiba-tiba Alokasha merasakan sebuah tangan memegang pundaknya. Sontak Alokasha menoleh dan ada Prabayu juga Agnia tengah menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Gimana kabar Daruma, Deshita sama Jala di pusat?" tanya Alokasha kepada keduanya.

"Daruma sama Jala ditangkep, Deshita kena pukul sampe harus masuk rumah sakit," jawab Agnia dengan nada kesal.

"Kita udah hubungin bantuan hukum buat mereka, seenggaknya kita udah bisa tenang sedikit," tambah Prabayu sembar mengelus kedua pundak Alokasha.

Mendengar jawaban dari kedua temannya, Alokasha memukul meja sekeras mungkin sembari mengerang kesal. Sebenarnya apa yang mengendalikan pemerintahan sehingga mereka berbuat hal-hal sebodoh ini.

Beberapa hari lalu ada demo besar di Jakarta Pusat yang membahas penebangan hutan besar-besaran hingga terjadi bencana alam di Sumatra yang telah merenggut ratusan nyawa bahkan hingga hari ini status bencana di  Sumatra tidak dijadikan bencana nasional. Ketiga teman mereka, Daruma, Jala dan Deshita pergi ke pusat untuk mengikuti demo, tapi sayangnya demo berakhir ricuh dan dua diantara mereka tertangkap. Sedangkan Deshita mengalami luka parah akibat berdesakan dan pukulan yang dirinya terima dari beberapa oknum berbaju coklat.

"Mereka ada masalah apa sih?! Kurang kaya apa mereka?!" amarah Alokasha memuncak membuat Prabayu semakin kuat memegangi tubuh gadis itu.

"Lo nanya kita juga kita bingung, sha! Semua orang bingung sama mereka! Gua tau lo ngga suka ada orang yang nyentuh temen-temen lo, tapi emosi kaya gini ngga nyelesaiin masalah," Agnia membalas dengan kasar. Ia tidak menyukai sifat implusif Alokasha. Memang Alokasha adalah salah satu yang cukup tenang, tapi jika bersenggolan dengan temannya ketenangan itu hilang.

Mereka berenam memang bukanlah kelompok pergerakan yang besar. Mereka tidak memiliki anggota sebanyak partai. Mereka bukanlah orang-orang penting seperti penguasa negara ini. Bahkan mereka hanya memiliki satu sama lain. Namun, semangat perubahan yang membara dan cahaya harapan yang kuat menjadi alasan mengapa hingga hari ini mereka berenam tidak menyerah untuk bersuara.

Setelah ketiganya berdiam sejenak, Alokasha langsung berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk membalas dan menyadarkan pemerintah. Dalam benaknya, ia ingin membuka donasi untuk korban-korban banjir bandang di Sumatra, ia tau mereka pasti mulai dilanda kelaparan.

"Pertama, ayo buka donasi buat korban bencana dulu. Setelah itu kita bagi jadi 2 tim, Prabayu sama lu ke Sumatra, gua pergi ke pusat buat jadi pers—"

"—kali ini aku nentang ide kamu, sha. Kamu sendirian kesana, disana aja lebih chaos daripada Sumatera. Aku ikut kamu ke Jakarta," potong Prabayu.

"Gua setuju sama Bayu, lo gaboleh ke pusat sendirian. Jangan sampe ada dari kita yang ditangkep lagi, udah cukup Jala sama Kak Harunika yang ditangkep," Agnia menyetujui ide dari Prabayu.

Pada akhirnya Alokasha pasrah dan mengangguk untuk menuruti ucapan dari kedua temannya itu. Memang benar, jangan sampai ada yanh tertangkap lagi. Jika mereka tertangkap, maka tidak ada lagi yang bisa berbicara pada dunia mengenai kondisi negara ini.

"Yaudah, gua nurut. Gua sama Prabayu ke pusat, Agnia ke Sumatera. Buat Agnia nanti gua telpon Kak Ferdy buat ikut rombongan mereka. Deal?"

Keduanya mengangguk dan menyetujui ide Alokasha. Setelah itu, Agnia mulai membuka donasi untuk para korban, sedangkan Alokasha dan Prabayu mulai berkemas untuk pergi ke pusat. Mereka akan pergi ke daerah tugas masing-masing.

Selama perjalanan, Alokasha hanya memperhatikan pemandangan di luar jendela dengan tatapan sendu. Sebagai warga negara, ia merasa cukup lelah dan bisa dibilang sudah mulai kuwalahan dengan semua gebrakan ini. Lalu sebagai seorang aktivis, dirinya juga sudah mulai kehilangan harapan, ia tidak lagi yakin negara tercintanya akan bertahan lebih lama.

Prabayu menyadari Alokasha yang terdiam, pemuda itu menyenderkan kepala Alokasha ke pundaknya. Inisiatif itu membuat Alokasha bangun dan menatap Prabayu dengan tatapan bingung.

"Kenapa?" tanya gadis itu.

"Kamu cape ya? Wajar aja kok kalo cape, diantara kita berenam, kamu yang punya hati paling besar sampai bisa meluk seluruh keadaan di negara ini. Tapi inget, kamu ngga sendirian, ada kita disini," jawab Prabayu dengan tenang.

Alokasha merotasikan matanya, tidak biasanya Prabayu lembut seperti ini. Bahkan jika pemuda itu digabung bersama Jala dan Agnia dalam satu ruangan, bisa-bisa mereka mengabsen seluruh kebun binatang.

"Bilang aja gegara gua cewe," celetuk Alokasha.

"Jaman sekarang ada yang namanya kesetaraan gender, lagian aku percaya sama kamu kalo ngga bakal sakit semudah itu. Kamu kan cewe jadi-jadian," balas Prabayu.

"Woi!!!" hampir saja Alokasha memukul wajah Prabayu, tapi dengan cepat Prabayu menahan pergelangan tangannya.

"Bercanda!"

Setelah sedikit menaikkan suasana, keduanya mulai berdiskusi mengenai seluruh peristiwa yang terjadi selama satu tahun ini. Mulai dari peristiwa pengesahan undang-undang, kasus-kasus korupsi, penghapusan kasus kekerasan seksual massal pada masa Orde Baru, status kritis binatang dan tanaman yang hampir punah, lalu baru-baru ini kecurigaan illegal logging yang menyebabkan banjir bandang di tiga provinsi di Pulau Sumatera.

Alokasha benar-benar penasaran apa alasan sebenarnya dari seluruh rentetan kejadian ini. Jika hanya kekayaan, bukankah aset dan perusahaan pribadi pemerintah sudah banyak? Karena dengan aset sebanyak itu sudah pasti pemasukan pasif yang mereka terima bisa melebihi gaji mereka sendiri. Namun, disisi lain ia juga mencurigai adanya kekuasaan lain yang membuat pemerintah tunduk.

"Bay, gua tau ini ide gila. Tapi, gimana kalo semisal kita lakuin investigasi kecil-kecilan gitu? Ya gua ngga yakin bakal bisa ngungkap sesuatu apa ngga, tapi gimana kalo kita coba?" ujar Alokasha dengan suara pelan.

"Kamu yakin, sha? Maksudku, kamu siap sama konsekuensinya nanti? Harga untuk buka tirai oligarki itu bisa aja seharga nyawamu," rasa cemas terdengar dari suara Prabayu ketika membalas ucapan Alokasha.

Pada saat yang sama, keduanya telah sampai di stasiun tujuan. Alokasha bangkit dari kursi penumpang dengan membawa tasnya yang berisi perlengkapan. Ia nampak menghela nafas, ketakutan akan skenario terburuk memang ada dan akan selalu ada. Namun, rasa cinta Alokasha terhadap orang-orang jauh lebih besar daripada ketakutannya dengan kematian.

"Rasa cinta gua ke negara ini lebih besar dari ketakutan gua buat mati. Sampah-sampah masyarakat diatas sana harus musnah. Pilihan gua cuma dua, merdeka atau mati," jawabnya. Walau sebenarnya dalam hati Alokasha tidak yakin mereka akan musnah sepenuhnya. Seperti masa awal Reformasi, pasti akan ada bekas-bekas dari masa lalu yang tersisa dan membangkitkan kembali apa yang seharusnya mati.

Lalu keduanya turun dari kereta sembari menarik koper yang mereka bawa. Begitu keluar sudah terasa bagaimana hiruk pikuknya ibukota. Tempat ini benar-benar padat. Semoga saja mereka tidak stres.

"Eh btw, gua ke toilet dulu. Lu mending cari kendaraan dulu, Bay. Nanti abis kelar gua telpon lu," ucap Alokasha.

"Aku ikut nemenin—"

"Heh?! Udah gile, yakali mau nemenin gua ke toilet cewe. Udah biar cepet juga, ngga bakal kenapa-kenapa juga gua."

Prabayu terdiam, ia membuka ponselnya sejenak sebelum melihat kearah Alokasha lalu membalas, "Hati-hati, sha. Perasaanku ngga enak."

Alokasha mengangguk lalu bergegas pergi ke toilet untuk menyelesaikan urusannya. Begitu masuk, Alokasha masih sempat mendengar ada orang lain yang menggunakan kamar mandi di sebelahnya. Lalu kurang lebih 5 menit Alokasha menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Ia keluar dari bilik dan langsung mencuci tangan. Disaat yang sama pintu bilik kamar mandi lain terbuka.

Seorang wanita menggunakan masker keluar dan berdiri dibelakang Alokasha untuk mengantri washtafel. Padahal washtafel di sebelahnya masih kosong.

"Daripada nunggu saya, mending kakak ke sebelah saya—"

Belum selesai Alokasha berbicara, bunyi tusukan benda tajam terdengar dan seketika rasa nyeri mulai menjalar sampai akhirnya darah mulai merembes keluar menembus pakaiannya. Disaat yang sama Alokasha melihat pesan masuk dari Prabayu dan disaat itu juga Alokasha sadar kalau rencana mereka sudah bocor.

'Rombongan Kak Ferdy ditembakin peluru karet, kamu mending cepetan balik. Jangan terlalu deket sama orang-orang.'

Polisi pasti sudah membongkar isi ponsel Daruma dan Jala, sehingga mereka bisa berjaga lebih cepat untuk menghadang kedatangan Prabayu dan dirinya ke pusat. Pisau itu dicabut dan seketika tubuh Alokasha jatuh ke lantai dengan bersimbah darah. Wanita itu mengambil ponsel milik Alokasha dan berucap, "Biarkan kamu jadi contoh untum teman-teman kamu, kalian memang sedikit tapi mengancam."

Alokasha berusaha menjawab dengan tenaga yang tersisa, "Kalian... anjing-anjing lapar harus dijinakkan. Rakyat... adalah... kunci negara, lihat saja jika rakyat tidak... berkehendak—"

"—pada kenyataannya malah rakyat yang menjadi jinak seperti binatang, sudah berapa kematian dan apakah mereka yang kamu bela sudah bergerak? Semua usaha yang kalian lakukan itu berakhir sia-sia," ujar orang itu lalu pergi dari sana meninggalkan Alokasha yang mulai melemah.

Pandangan Alokasha mulai mengabur, tak lama ia akan kehilangan kesadarannya. Kenyataan miris benar-benar menamparnya disaat saat terakhir. Menjadi satu-satunya cahaya harapan disaat orang lain bahkan tidak benar-benar menginginkan cahaya itu ada. Pada akhirnya harapan untuk perubahan bukan hanya dimatikan oleh penguasa, tapi dimatikan oleh rakyat kecil yang tidak menyadari kalau mereka membutuhkan harapan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Utopia Sang Penyair Jerman

Mulut Pada Tembok Putih