Utopia Sang Penyair Jerman

Tampak seorang remaja laki-laki berambut coklat kemerah-merahan tengah membaca buku tepat di bawah sebuah pohon pinus. Ia tampak fokus membaca sebuah buku tebal bersampul coklat yang nampak usang dan tua, kertas-kertas pada buku itupun terlihat menguning menunjukan kalau buku itu telah memiliki umur yang panjang. Suasana damai tentram tak lupa angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya sesekali, keadaan rimbun dikelilingi oleh pohon-pohon pinus di sekitar nya benar-benar cocok untuk membaca. 


Menulis puisi adalah biadab ... '


Namun, suasana tenang itu tidaklah bertahan lama. Beberapa saat kemudian, seorang dari teman dari remaja laki-laki itu berlari mendekat dengan ekspresi wajah sumeringah. 

"Achilles!!" panggil seorang teman itu tanpa memelankan laju larinya.


Kemalangan akan terjadi padamu ... '

Tidak ada yang berhak kau dapatkan ... '


Remaja laki-laki yang tengah membaca buku itu--Achilles sedikit melirik kearah temannya yang mendekat itu. Senyuman kecil nampak tercipta dari ranum tebal pucat yang menjadi salah satu fitur ciri khas nya. 

"Pada akhirnya kemalangan akan terjadi padaku ... tentara Jerman yang malang," gumamnya.

"Patroclus!! Apa yang kau lakukan disini?!" Achilles meletakan buku yang sedari tadi dirinya baca, dan menaruh seluruh perhatiannya pada seorang yang tengah berlari mendekatinya saat ini.

Patroclus telah berdiri tepat di samping Achilles sebelum akhirnya duduk di samping Achilles dengan wajah memerah dan keringat tak lupa nafas terengah yang menandakan kalau Patroclus kelelahan berlari. Pemuda itu membawa sebuah kantong yang terbuat dari kain yang sepertinya berisi sesuatu.

"Kau tahu, aku baru saja mengambil tiga buah apel dari pasar!! Mereka sempat menangkap ku dan memukul ku, tapi inilah hal hebatnya ... seorang polisi mendatangiku lalu memberikan sejumlah uang pada pedagang apel itu. Polisi itu tersenyum lembut padaku, setelahnya aku dibiarkan pergi membawa apel-apel ini, bukankah itu hebat?!" ucap Patroclus sembari membuka tas kain yang ternyata berisi cukup banyak buah apel.  

Achilles menghela nafas tak lupa menggeleng heran dengan kelakuan Patroclus. Ia mengambil sebuah sapu tangan yang kebetulan selalu dirinya bawa lalu mengusapkannya pada wajah kotor dan berkeringat temannya itu. Memang Patroclus bukan berasal dari keluarga bercukupan seperti dirinya, Patroclus berasal dari jalanan dimana mencuri adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Entah sudah berapa kali Achilles mengingatkan Patroclus untuk menghilangkan kebiasaan mencurinya itu, tapi kawannya itu selalu membantah dengan alasan dirinya bosan jika tidak melakukannya. 

"Aku sudah mengatakannya, jangan mencuri lagi kau bisa meminta makanan dariku apabila kau lapar," ujar Achilles sembari membasuh keringat pada wajah Patroclus.

Suara decihan kesal keluar dari bibir si remaja jalanan. Wajahnya nampak kusut setelah Achilles mulai mengucapkan kalimat yang nantinya akan menjadi urusan panjang, karena pasti Achilles akan berceramah.

"Aku bosan, aku juga ingin memastikan apakah ada orang yang masih ingin membantu remaja gelandangan yang mencuri apel. Karena setelah polisi itu membantuku, aku cukup terkejut dia tidak memberikan tatapan tajam seperti polisi lainnya. Biasanya mereka akan memberikan tatapan tajam setelah membantuku, " balasnya dengan nada ketus.

"Setidaknya berterima kasihlah pada nya, jarang sekali kau mendapatkan perlakuan seperti itu," jawab Achilles.

Setelah dirasanya wajah Patroclus bersih, Achilles kembali memasukan sapu tangan itu ke kantongnya.

Patroclus membuang muka ketika Achilles mengucapkan hal itu. 

"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Kalaupun aku berada di ujung nyawa ku, mengatakan terima kasih hanya akan ku lakukan pada orang yang kurasa tepat." 

"Omong-omong, apa yang kali ini kau baca??" tanya Patroclus ketika melihat sebuah buku tebal yang nampak tua terbaring manis di sebelah Achilles.

"Buku fiksi sejarah, tentang seorang tentara Jerman yang ingin menjadi seorang penyair. Namun, keinginannya ditentang oleh ayahnya, karena demi nama keluarga ia harus membela negara dengan menjadi anggota militer. Menurut ayahnya, menulis puisi adalah biadab itu akan membawa banyak kemalangan untuk sang penyair." jelas Achilles sembari mengingat apa saja yang telah dirinya baca beberapa saat lalu.

"The hell-- apakah itu sebuah kepercayaan atau apa? Menulis puisi mendatangkan kemalangan, terdengar seperti suatu kutukan yang akan membuat siapapun takut menulis." Patroclus menanggapinya dengan tatapan mengadili.

Menyadari tatapan itu, Achilles menoleh kearah Patroclus lalu menghela nafas. Terkadang anak ini terlalu cepat mengomentari sesuatu walau komentar yang Patroclus lontarkan memang wajar, karena memang terdengar seperti cerita tahayul ataupun kutukan untuk orang awam.

"Bukan seperti itu, ini semua lebih ke sebuah pola pikir, Patroclus. Suatu tragedi akan terjadi apabila dibarengi dengan pola pikir yang buruk. Bahkan tragedi yang paling mustahil dapat terjadi apabila pola pikir dari orang itu memang buruk, seperti contohnya seseorang yang memiliki kepribadian baik, senang membantu ataupun seorang yang penurut. Apabila orang itu memiliki pola pikir yang buruk, tidak hanya menjadi orang yang senang terhadap suatu kejahatan bahkan menjadi pelaku kejahatan akan sangat mungkin terjadi." jelas Achilles sedikit panjang.

Achilles menatap kearah Patroclus, tepat pada netra kelam remaja berambut gelap itu.

"Dan kau tahu apa penyebabnya??" tanya Achilles pada Patroclus.

"Aku ... tidak tahu." jawab Patroclus sedikit gugup, karena Achilles menatapnya dengan tatapan aneh.

"Itu semua berawal dari sulitnya orang itu menerima keadaan dengan lapang dada. Lalu apakah hubungannya dengan menulis puisi adalah biadab? Jika seorang penyair digagalkan untuk meraih cita-citanya menjadi seorang penyair, dia akan menulis skenario kemalangan atau tragedi ketika dirinya mendapatkan kesempatan itu. Kesulitannya untuk menerima segalanya dengan lapang dada-- dengan hal ini adalah cita-citanya untuk menjadi seorang penyair, itu dapat memicu pola pikir buruknya dan hall inilah yang dapat membuat skenario kemalangan." jelas Achilles lagi.

Mendengar penjelasan itu membuat Patroclus mematung. Itu sedikit menyeramkan kau tahu, membayangkan tragedi dahsyat terjadi hanya karena seorang penulis yang ingin merealisasikan tulisannya, terdengar mengerikan. 

"J-jadi, apakah tentara itu bisa menjadi seorang penyair?" 

Achilles mengangguk, mengiyakan jawaban Patroclus.

"Pada akhirnya ia menjadi penyair, ia menjadi Shakespeare untuk seseorang yang disebut Raja Laut dari Rusia. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga Sang Raja Laut mati dieksekusi karena kejahatannya menjadi seorang provokator di negara nya. Tentara Jerman itu dipaksa kembali, diperintahkan membuat sesuatu sebagai bentuk penebusan dosa dan kesetiaannya terhadap negara yang selama ini dicintainya. Namun, tak ada guna karena pada akhirnya dia mati dieksekusi sebelum mayatnya dibuang ke lautan." jawab Achilles dengan menunjukan tatapan sendu kearah buku yang sebelumnya dirinya baca.

"Apakah kau ... jatuh cinta dengan karakter tentara Jerman itu?" Patroclus kembali melemparkan pertanyaan kepada Achilles.

Achilles menggeleng pelan dengan tetap menatap sendu buku itu.

"Aku hanya sedih, dia sama sekali tidak mendapatkan yang dirinya inginkan. Tentara Jerman itu, bersama dengan kelompok yang dipimpin oleh Raja Laut hanya ingin mencari ketenangan dan utopia yang selama ini mereka inginkan. Selama mereka hidup, mereka hanya melihat dystopia yang membuat mereka kesulitan bernafas dan merasa bersalah setiap harinya. Si Tentara Jerman mungkin secara logika sangat mencintai negaranya dan rela melakukan apapun sebagai bentuk kesetiaannya, tetapi hatinya berkata lain. Ia tidak ingin melihat adanya pertumpahan darah, dan ingin hidup tenang." 

Patroclus tertawa mendengarkan perkataan Achilles. Menurutnya lucu, mencari ketenangan dimana dunia memiliki strata sosial dan banyak perbedaan yang bisa saja membuat konflik apabila saling bergesekan satu sama lain. Jika memang ada, Patroclus ingin ikut tinggal disana.

"Hahaha, aku harap bisa tinggal di utopia yang mereka maksud. Nasib ku terlalu menyedihkan disini."

Suara tawa Patroclus membuat Achilles sedikit kesal karena menganggu momen emosional yang sedang dirinya alami saat ini.

"Aku tahu kau tertawa karena tidak ada yang namanya kedamaian ataupun utopia-- dunia penuh kesetaraan disaat dunia sendiri memiliki strata sosial. Tapi menurutku keinginan mereka sedikit masuk akal karena perang dunia pertama yang mulai pecah pada tahun itu, 1914. Mereka hanya ingin lepas dari penderitaan perang, walaupun cara yang mereka lakukan adalah salah, yaitu dengan menjadi pemberontak." ucap Achilles dengan nada ketus.

Si lawan bicara hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai bentuk dirinya memahami ucapan Achilles. Mungkin dirinya adalah seorang gelandangan, tapi berteman dengan Achilles yang merupakan seorang remaja pecinta buku membuat Patroclus memiliki ilmu yang menurutnya berharga. 

"Menjadi pemberontak terkadang menyenangkan kau tahu. Adrenalin mu diuji ketika orang-orang mengejarmu dan menempelkan sebuah poster buronan pada tembok atau tiang listrik. Dan ketika kau tertangkap, alasan yang akan keluar dari mulutmu adalah karena merasa bosan. Aku yakin itu dapat membuat inspektur polisi menampar wajahmu dan menahanmu lebih dari 8 jam untuk interogasi." celetuk Patroclus dengan nada riang dan wajah yang santai.

Achilles mendengus mendengar ucapan teman dekatnya itu yang terdengar sangat nekat.

"Aku bukan dirimu yang mudah bosan dengan kehidupan. Ada banyak buku dari perpustakaan kota yang akan membuatku memimpikan mereka sepanjang malam, atau membuatku stress dengan teka-teki yang ada. Itu sudah membuat hidupku berwarna, jangan samakan dengan berandalan sepertimu." balas Achilles.

"Terkadang aku heran dengan otak mu, apakah tidak merasa terancam dengan semua tulisan itu? Melihat beribu huruf dalam satu hari bisa membuatnya pusing." kekeh Patroclus

Remaja dengan rambut coklat kemerahkan itu bangkit dari tempat duduknya mengambil buku lalu mengajak Patroclus untuk pulang, karena sebentar lagi jam makan malam. Ia menghiraukan perkataan Patroclus tentang otaknya, memang terkadang pusing. Namun, tidur dapat menyelesaikan hal itu.

"Ibu memasak makanan favoritmu, lebih baik kau pulang sebelum aku terkena sembur dari bisa ular." 

"Bagaimana akhir dari cerita itu?" 

Pertanyaan Patroclus membuat Achilles sedikit terheran-heran. Sangat jarang Patroclus menanyakan bagian akhir dari cerita yang telah Achilles baca, tapi kali ini sepertinya remaja dengan surai kelam itu sedikit lebih penasaran dari biasanya.

"Ceritanya belum memiliki akhir, bagian dimana si tentara Jerman terbunuh adalah bagian akhir dari bab ketiga. Lagipun buku ini aku dapatkan dari seorang kakek tua yang kubantu untuk menyeberang jalan beberapa hari lalu, dia mengatakan padaku 'Seperti tentara Jerman itu, kau juga memilikinya'." jawab Patroclus.

"Wow, apakah kau akan menjadi Shakespeare selanjutnya Achilles??" 

Achilles terdiam sejenak, ia nampak berpikir selama beberapa saat sebelum ia memberikan gelengan pelan.







"Entahlah, tapi aku juga penasaran dengan bagaimana akhir sebenarnya dari cerita ini."



.

.

.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Negeri Yang Menolak Cahaya

Mulut Pada Tembok Putih