Mulut Pada Tembok Putih
....
Kesunyian kamar menyelimuti hati. Putih ruangan kecil itu memeluk erat. Sebuah jendela mengarah keluar, memberikan sedikit pemandangan indah disela rona putih. Sosok aneh terduduk diatas kasur, memandang dunia luar dengan tatapan kosong. Tatapan tenang tanpa arti kuat. Berpikir dan merenung. Sebenarnya apa makna dunia? Apa yang harus diraih? Apa yang harus menjadi tujuan? Siapa yang mendiami tubuh ini? Sosok seperti apa yang selama ini berdiam di dalamnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang semestinya dilakukan untuk bersosialisasi? Kenapa terasa terisolasi? Apa yang terjadi? Mengapa? Apa? Dimana? Bagaimana? Apa? Mengapa? Dimana? Apa? Apa? Apa? Sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh makhluk Tuhan yang paling mulia ini? Semua pertanyaan hanya mengulang, sosok itu berpikir dan berpikir.
Mata melirik kearah dinding dan bunyi keras berbarengan dengan kepala yang menyentuh permukaan. Teriakan menggema ke seluruh ruangan seiring bunyi itu terdengar berulang. Bercak merah menyala bak mawar segar di pagi hari menemani kosongnya putih tembok. Menambah variasi dan motif menawan. Dilihatnya bekas bercak itu, lalu dengan jarinya mulai membuat pola-pola cantik. Hati. Bintang. Rumah. Begitu rona merah mulai menipis, diambilnya lagi dari sumbernya. Ia kembali melukis. Kucing. Manusia. Manusia. Manusia. Manusia. Manusia. Sepercik perasaan muncul dari dalam batin, membuncah seiring gambar-gambar lain terbentuk. Suara lirih kesakitan di awal, berubah menjadi tawa riang. Detik demi detik, menjadi menit tak terasa sudah berapa lama ia menggambar hingga seluruh dinding dipenuhi pola 'menawan'.
"Seperti ini kah rasanya menjadi manusia? Menjadi makhluk Tuhan yang paling mulia seutuhnya..."
"Ini menyenangkan. Mengapa semuanya mengatakan ini menakutkan?"
"Manusia, mereka cantik."
Gumaman mulai terdengar, sosok itu berbicara sendiri. Akhirnya ia berhenti melukis dan mulai mengamati lukisan yang ia buat. Tembok putih itu tidak lagi berwarna putih. Warna merah yang mulai menjadi coklat menghiasi keseluruhan sisinya. Tatapan kosong sosok aneh itu mulai berbinar, tanpa menyadari ada bagian dari dirinya yang bocor. Senyuman merekah pada wajahnya. Perasaan aneh menggelitik perutnya, membuatnya kembali tertawa.
"Jika aku terus menggambar, mungkinkah aku menjadi manusia seutuhnya? Ya! Aku harus menggambar lebih banyak!", ucapnya riang. Sosok itu kembali melukis tanpa henti. Berjam-jam tanpa ada jeda. Hingga ia tidak menyadari, sudah tidak ada lagi rona merah yang tersisa.
Hari itu, sore itu, di kamar itu, hanya ada sebuah televisi yang menyala menampilkan berita terkini berbarengan dengan orang-orang berbaju putih tertutup mulai mengeluarkan barang-barang keluar dari kamar. Seorang dari mereka berhenti dan mengamati dinding putih yang penuh dengan pola-pola indah yang sudah sosok aneh itu buat. Nampak orang itu menggeleng keheranan, terdiam terkejut melihat seorang manusia mampu melakukan ini. Seorang rekan lain menghampirinya lalu seketika menangkap keterkejutannya, ia sering menemukan kasus serupa seperti ini.
"Kebingungan dan terkejut, kurasa?" tanya sang rekan.
"Bagaimana seorang manusia bisa melakukan ini?" tanyanya balik.
"Kita menyebutnya manusia, tapi apakah kau yakin 'mereka' menganggap diri mereka manusia?" balasan dari sang rekan membuatnya sedikit kebingungan.
Sang rekan tertawa pelan menangkap kembali kebingungan dari wajahnya. "Anak itu mungkin segelintir orang yang tidak beruntung, orang yang terdesak keadaan dan tidak mendapatkan pengarahan yang baik mengenai definisi manusia. Ia akan bingung dengan bagaimana cara bersikap sebagai manusia normal, merasa hampa dan berakhir mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia. Mungkin mereka merasa tidak menyatu dengan society, atau mungkin mendapatkan perlakuan yang berbeda, siapa tahu. Sekarang hanya jejak seperti ini yang mereka tinggalkan. Hal terakhir yang bisa mereka gunakan untuk berbicara."
Tatapan pekerja itu berganti dari kebingungan menjadi belas kasihan. Membayangkan kebingungan yang dialami sampai membisu dengan sendirinya. Bahkan pada akhir kebisuan itu menjemput, mereka benar-benar tidak bisa berteriak. Disentuhnya tembok itu dan mengelusnya pelan.
"Kau adalah manusia. Maaf kau mengalami semua ini sendirian, selamat beristirahat."
Komentar
Posting Komentar