Postingan

Mulut Pada Tembok Putih

 ....     Kesunyian kamar menyelimuti hati. Putih ruangan kecil itu memeluk erat. Sebuah jendela mengarah keluar, memberikan sedikit pemandangan indah disela rona putih. Sosok aneh terduduk diatas kasur, memandang dunia luar dengan tatapan kosong. Tatapan tenang tanpa arti kuat. Berpikir dan merenung. Sebenarnya apa makna dunia? Apa yang harus diraih? Apa yang harus menjadi tujuan? Siapa yang mendiami tubuh ini? Sosok seperti apa yang selama ini berdiam di dalamnya? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang semestinya dilakukan untuk bersosialisasi? Kenapa terasa terisolasi? Apa yang terjadi? Mengapa? Apa? Dimana? Bagaimana? Apa? Mengapa? Dimana? Apa? Apa? Apa? Sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh makhluk Tuhan yang paling mulia ini? Semua pertanyaan hanya mengulang, sosok itu berpikir dan berpikir.      Mata melirik kearah dinding dan bunyi keras berbarengan dengan kepala yang menyentuh permukaan. Teriakan menggema ke seluruh ruangan seiring bunyi itu terd...

Negeri Yang Menolak Cahaya

 ... Alokasha terdiam melihat berbagai berita di tv hari itu. Semakin hari nampak kehancuran semakin dekat. Pemerintahan kacau, angka kemiskinan meningkat, aktivis lingkingan ditangkap bahkan dilukai, alam mulai menunjukkan taringnya, banyak kematian terjadi dan lain-lain. Orang-orang tak lagi terdengar diantara para penguasa. Gedung yang seharusnya dimiliki oleh rakyat malah dipagari dan diberi jarak yang jauh dari jangkauan tangan-tangan kecil. Dalam benak Alokasha berpikir bagaimana bisa ada manusia bisa menutup telinga dan mata serapat ini. Ketika hati dan pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan dan kekesalan, tiba-tiba Alokasha merasakan sebuah tangan memegang pundaknya. Sontak Alokasha menoleh dan ada Prabayu juga Agnia tengah menatapnya dengan tatapan khawatir. "Gimana kabar Daruma, Deshita sama Jala di pusat?" tanya Alokasha kepada keduanya. "Daruma sama Jala ditangkep, Deshita kena pukul sampe harus masuk rumah sakit," jawab Agnia dengan nada kesal. "Kita ...

Utopia Sang Penyair Jerman

Tampak seorang remaja laki-laki berambut coklat kemerah-merahan tengah membaca buku tepat di bawah sebuah pohon pinus. Ia tampak fokus membaca sebuah buku tebal bersampul coklat yang nampak usang dan tua, kertas-kertas pada buku itupun terlihat menguning menunjukan kalau buku itu telah memiliki umur yang panjang. Suasana damai tentram tak lupa angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya sesekali, keadaan rimbun dikelilingi oleh pohon-pohon pinus di sekitar nya benar-benar cocok untuk membaca.  '  Menulis puisi adalah biadab ... ' Namun, suasana tenang itu tidaklah bertahan lama. Beberapa saat kemudian, seorang dari teman dari remaja laki-laki itu berlari mendekat dengan ekspresi wajah sumeringah.  "Achilles!!" panggil seorang teman itu tanpa memelankan laju larinya. '  Kemalangan akan terjadi padamu ...  ' '  Tidak ada yang berhak kau dapatkan ...  ' Remaja laki-laki yang tengah membaca buku itu--Achilles sedikit melirik kearah temannya yang mendekat itu. ...